Membangun Paradigma Keilmuan di Dalam Organisasi Kemahasiswaan

Oleh : Alfan Presekal[1]

Ikatan Mahasiswa Elektro merupakan lembaga eksekutif mahasiswa (student govenrment) di tingkat Departemen Teknik Elektro. Organisasi ini memiliki latar belakang orang-orang yang homogen dari segi keilmuan. Sesuai dengan Tri Dharma Perguruan tinggi Ikatan Mahasiswa Elektro semestinya dapat mereperesentasikan nilai-nilai yang terdapat didalamnya mulai dari pendidikan, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian masyarakat.

Namun, selama ini menjadi suatu ironi ketika Ikatan Mahasiswa Elektro Universitas Indonesia hanya menjadi sebuah organisasi mahasiswa “biasa”. Lantas, apakah definisi dari organisasi mahasiswa biasa itu, disini saya memiliki prespektif bahwa organisasi mahasiswa biasa (ordinary) adalah organisasi yang sekedar melaksanakan program kerja yang identik dengan (event organizer), kurang memiliki rencana strategis, serta kurang memiliki inovasi.

Diperparah kondisi di lapangan yang menunjukan bahwa organisasi yang berjalan hanyalah sekedar warisan dari pendahulu-pendahulunya. Karena hal tersebut para “pelaku”  organisasi tersebut tak ubahnya seperti “robot” yang diprogram untuk menjalankan fungsi tertentu. Akan menjadi lebih baik ketika para pelaku organisasi bukan lagi sekedar menjadi robot, tetapi menjadi manusia yang sungguhnya. Menjadi sosok manusia yang dapat mengoptimalkan potensi yang telah di anugerahkan Allah kepadanya.

Sesuai Firman Allah damam QS. At-Tiin Ayat 4 :

Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”

Dengan potensi yang dimiliki kita sebagai manusia semestinya dapat berbuat lebih. Sehingga keberlangsungan organisasi akan lebih memiliki ruh, semangat, dan jiwa pergerakan. Hal tersebut untuk mencegah kebiasaan organisasi ala primordial yang senantiasa berkiblat pada kepengurusan sebelumnya. Disini bukan berarti tidak diperkenankan melihat organisasi pada kepengurusan sebelumnya, tetapi diharapkan tetap yang menjadi penentu organisasi utama adalah inovasi terbaru yang relevan dengan kondisi saat ini.

Selama periode kepemimpinan saya terdapat 3 hal setrategis yang akan menjadi prioritas. Hal tersebut meliputi  kinerja profesional organisasi, peningkatan iklim keilmuan, dan orientasi pembinaan keilmuan yang kontinu. Ketiga hal yang menjadi prioritas tersebut akan dijelaskan lebih lanjut.

Poin pertaman adalah menciptakan kinerja profesional organisasi. Hal tersebut menjadi begitu penting karena kebudayaan kinerja profesional di organisasi kemahasiswaan dapat dikatakan sengat kurang.  Hal tersebut dimungkinkan karena adanya paradigma yang menyatakan bahwa “Mahasiswa boleh salah”. Memang hal tersebut akan menjadi positif untuk memberikan dorongan motifasi kepada mahasiswa agar mau mencoba dan bergerak. Namun, ketika mahasiwa telah berada di dalam sistem seringkali mereka lalai dan memiliki kinerja yang alakadarnya. Hal tersebut telah terlalu sring terjadi sehingga menjadi sesuatu yang sangat sering dimaklumi. Melalui kepemimpinan saya, akan coba diterapkan kebudayaan profesional organisasi. Yang mengajarkan 3 hal pokok meliputi respect of time, respect of system, dan respect of people.

Poin kedua adalah peningkatan iklim keilmuan. Terkait posisi saya yang berada di lingkungan Departemen Teknik Elektro maka iklim keilmuan yang menjadi visi saya tentu keilmuan yang sesuai dengan core kompetensi. Berdasarkan kondisi yang ada saat ini dapat dikatakan bila paradigma keilmuan bukan menjadi jiwa dari organisasi kemahasiswaan. Lingkungan Departemen Teknik Elektro memiliki kecenderungan larut oleh hagemoni organisasi sosial yang begitu kental di kampus Universitas Indonesia. Metode yang akan dilakukan untuk meningkatkan iklim keilmuan antara lain melalui peningkatan partisipasi dalam kompetisi keilmuan, mengadakan kegiatan yang men-triger kegiatan riset mahasiswa, dan memformulasikan suatu program pengabdian masyarakat sesuai dengan core kompetensi elektro. Dengan peningkatan iklim keilmuan di dalam organisasi kemahasiswaan nantinya akan tercapai suatu peranan nyata yang dapat di lakukan mahasiswa elektro sesuai core kompetensi yang dimiliki.

Pada poin ketiga saya menempatkan aspek pembinaan iklim keilmuan yang kontinu. Rencana setrategis tersebut muncul berlatarbelakang kondisi kemahasiswaan saat ini. Dilingkungan Fakultas Teknik khususnya di Departemen Teknik Elektro pembinaan merupakan suatu hal yang senantiasa dikedepankan. Hal tersebut terkait berbagai fase yang mesti dilalaui seorang mahasiswa sejak pertama kali menginjakan kaki di kampus. Satu kelemahan pada sistem pembinaan yang ada adalah terlalu dominanya pembinaan kelambagaan. Memang pembinaan kelembagaan merupakan hal yang begitu sentral untuk menciptakan pemimpin-pemimpin setrategis. Namun, ternyata pembinaan yang demikian seringkali melupakan aspek keilmuan. Sehingga sebagai akibatnya banyak dilahirkan aktor-aktor yang pandai bicara, tetapi tidak dapat menunjukan suatu kinerja konkrit sesuai core kompetensi yang dimiliki. Hal tersebut menjadi evaluasi besar apabila melihat kondisi bangsa ini. Dimana banyak terlahir politikus-politikus yang pandai bicara, tetapi sangat jarang ditemui sosok ahli yang dapat memberikan kontribusi nyata dari pada sektor ilmu pengetauan dan teknologi. Diperparah lagi apabila kita sebagai bangsa Indonesia sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa saat ini kita sedang tertinggal pada bidang ilmu pengetahuan dan teknologi bila dibandingkan dengan bangsa-bangsa lainya. Sebagai langkah setrategis think globally, act locally maka melalui amanah yang saya emban akan diciptakan kondisi pembinaan mahasiswa yang kontinu yang mengedepankan aspek keilmuan.

Melalui langkah setrategis di atas saya berharap dapat merealisasikan visi saya dalam organisasi “Menciptakan iklim kemahasiswaan yang sarat dengan nilai keilmuan serta memiliki etos kerja profesional”. Serta tentunya sebuah visi besar “Menciptakan Indonesia yang Lebih Baik dan Bermartabat, serta Kebaikan dari Allah Pencipta Alam Semesta


[1] Penulis : Ketua Departemen Riset dan Penelitian- Ikatan Mahasiswa Elektro Universitas Indonesia

Perihal alfanpresekal
Mahasiswa Teknik Komputer - Universitas Indonesia

One Response to Membangun Paradigma Keilmuan di Dalam Organisasi Kemahasiswaan

  1. adityo abdi mengatakan:

    gw suka analisanya, dan pnyampaian pendapat yang lo rasain sekarang dan krmen”….

    mungkin gw juga ngrasain hal pada poin ke 2. yaitu keilmuan. yah, elektro hampir ditinggalkan dengan roh keilmuan yang sebenarnya. butuh suatu trigger untuk temen” yang laen “berprestasi” (banyak cara) sesuai core kompetensi temen”.

    gw tunggu fan langkah konkret lo, untuk solusi dan pendapat lo yang dijelasin di artikel ini terhadap apa yang harus dilakukan sekarang untuk ELEKTRO!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: