Who’s The Next Yap Yun Hap From Electro ?

Yap Yun Hap memang bukan Soe Hok Gie, seorang demonstran mahasiswa dari angkatan 66 yang meniggal karena terjebak gas beracun di puncak Gunung Semeru. Namanya pun tak begitu menggema dibandingkan Soe Hoek Gie. Tak banyak orang yang tahu siapa dia. Namanya memang sempat termuat di media masa pasca kerusuhan Mei 1998. Bahkan kita yang kini berada di sini di Departemen Teknik Elektro UI yang memiliki latar belakang almamater dan bidang yang sama tak banyak yang tahu siapa dia. Yap Yun Hap adalah mahasiswa jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Indonesia angkatan masuk tahun 1996. Yang menjadi salah satu korban dari tragedi Semanggi yang menjadi bagian dari euforia reformasi di Indonesia. Mungkin ketika tragedi 1998 berlangsung sebagian besar dari kita masih duduk di bangku Sekolah Dasar yang hanya dapat menatap euforia reformasi dari layar TV. Dulu ketika kita memandang sekian banyak orang-orang menggunakan Jaket Kuning berjuang demi sebuah perubahan untuk bangsa. Tak terasa setelah belasan tahun kini kita berdiri di sini menjadi bagian dari orang-orang ber jaket kuning yang dulu hanya dapat kita saksikan dari layar TV.

Artikel ini diangkat dengan masud membangkitkan kembali Yap Yun Hap dari Elektro UI. Membangkitkan bukan berarti kita menghidupkan beliau yang sudah berada di sisi-Nya tetapi membangkitkan disini adalah menghidupkan kembali idealisme-idealisme yang semestinya kita pegang teguh sebagi kaum yang katanya agen perubahan. Setelah belasan tahun pasca tragedi semanggi dimana idealisme harus diganti dengan korban nyawa, dimana seorang Yap Yun Hap pernah berkata

“Saya sekolah di UI, rakyat yang membiayai, yang mensubsidi. Maka saya harus berjuang untuk rakyat”, tutur Yap Pit Sing ayah dari Yap Yun Hap (Kompas, 26/1999).

Memang kondisi di zaman Yap Yun Hap berbeda dengan kondisi sekarang. Dulu kampus-kampus negeri sepenuhnya dibiayai oleh Negara sehingga seluruh mahasiswa merasa bahwa dirinya kuliah atas nama rakyat, demi rakyat, dan semestinya memperjuangkan kepentingan rakyat. Namun, bagaimana kondisi kita saat ini ?, Semenjak masuknya ideologi liberal dalam dunia pendidikan tinggi yang direperesentasikan kedalam suatau rancangan UU BHP kampus bukan lagi menjadi suatu wahana perjuangan atas nama rakyat, tapi justru sebagai wahana komersialisasi di dunia pendidikan. Coba kita saksikan kondisi yang ada di sekitar kita. Dengan label BOP yang katanya “berkeadilan” justru dapat menjadi media bagi eksploitasi kampus terhadap mahasiswa dengan mendapatkan pemasukan sebesar-besarnya.

Melihat kondisi yang demikian kita sebagai mahasiswa apakah hanya diam seperti apa yang kita lakukan belasan tahun silam. Ketika kita hanya dapat melihat dari layar kaca perjuangan senior-senior kita. Ketahuilah kawan sekarang kita telah berada di posisi mereka. Semestnya kita peduli terhadap kondisi di sekitar kita. Jangan sampai idealisme liberal merajalela di lingkungan kampus. Wahai rekan-rekan elektro kemanakah penerus dari Yap Yun Hap, kemanakah orang-orang yang peduli. Apakah kita mau dicap sebagai orang yang apatis, cuek, dan tak peduli dengan apa yang terjadi di sekitar kita. Kita adalah generasi penerus, kita adalah generasi perubahan !

Semoga idealisme seorang Yap Yun Hap bisa tetap mengakar di sanubari rekan-rekan departemen teknik elektro. Elektro Elektro Elektro !!!

 

Perihal alfanpresekal
Mahasiswa Teknik Komputer - Universitas Indonesia

One Response to Who’s The Next Yap Yun Hap From Electro ?

  1. Ghiffari mengatakan:

    ada byk masalah di negeri ini yang mempengaruhi byk hal, termasuk pendidikan. Walaupun dana pendidikan besarnya 20% APBN. Tapi pas dana turun dari institusi yang plg besar sampai paling kecil pasti dikorupsi. UI sendiri sebagai universitas besar kekurangan dana untuk pengembangan. Apalagi visinya sekarang untuk menjadi World Class Research University. Tentu butuh dana yang besar. Tapi, dana dari negara itu kurang karena byk hal sperti yg disebutin di atas ato framework pembagian dana yang tidak jelas. Maka itu diadakan BOP ini. Tapi yang jadi masalah juga itu dana pengembangan ke tiap fakultas. si rektor cenderung ngasih dana untuk fakultas2 sosial. jangan heran kalo ngeliat ada kompetisi2 ….model united nations(..MUN) yang harus pergi keluar negeri didukung penuh UI sedangkan kalo mahasiswa2 yang dari rumpun science and technology, jangankan dana penggantian instrumen Lab FT & FMIPA yang udah ketinggalan 30 tahun, dukungan (dana)untuk yang lomba2 juga sedikit. ya gimana mau jadi research university kalo penopang utama research (science and technology) ga didukung penuh.

    saya berkomentar gini bkn mendukung BOP atau apa. saya termasuk mahasiswa yg bayar BOP full. saya hanya ingin atmosfer research and development (R&D) di FT, FMIPA, n Fasilkom menjadi kompetitve dan maju dan juga mendapat dukungan penuh. Karena S&T merupakan penopang research yang akan mempengaruhi kemajuan industri.

    Ghiffari Aulia
    Daejeon, Korea Selatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: