Kereta Api : Transportasi Rakyat Dulu dan Sekarang

potret perkeretaapian

Kereta api, sebuah nama transportasi yang begitu dekat dikalangan rakyat Indonesia. Meskipun ditinjau dari segi nama secara terminologi kurang tepat, pasalnya di era ini sudah hampir tidak ada “kereta api” yang sebenarnya. Lebih tepat apabila kita memanggil sarana transportasi ini sebagai kereta diesel atau kereta listrik. Namun, apapun sebutanya yang jelas hal itu tak akan mengubah paradigma rakyat mengenai sarana transportasi masal yang satu ini. Biarlah kesalahan secara terminologi itu terus terjadi, tetapi setidaknya sang “kereta api” masih akan mengisi hati para pengguna yang berasal dari kalangan proletar.

Kereta api sejak dulu hingga kini selalu menjadi andalan sarana transportasi masal di Indonesia[1]. Meskipun pada kenyataannya jaringan tarnsportasi ini secara mayoritas masih berada di pulau Jawa yang sejak era kolonial telah menjadi episentrum pembangunan. Dengan bertenagakan sebuah mesin penggerak yang dapat menarik hingga puluhan gerbong menjadikan kapasitasnya begitu besar apabila dibandingkan sarana transportasi darat lainya. Pada zaman dahulu kereta api banyak digunakan oleh pemerintah kolonial sebagai alat transportasi industri. Hingga saat ini masih dapat ditemui jejak-jejak lintasan kereta api pengangkut tebu warisan era kolonial. Salah satunya di museum kereta api Ambarawa yang sampai saat ini masih merekam jejak kejayaan kereta api di masa lalu[2]. Di era modern sekarang ini seiring pertumbuhan penduduk yang memiliki pola eksponensial, kereta api menjadi salah satu transportasi masal andalan rakyat. Hal ini cukup beralasan karena kondisi perekonomian bangsa kita saat ini, maka tak heran jika rakyat memilih sarana transportasi yang murah sekaligus meriah.

Ditinjau dari segi ekonomi memang layak jika kereta api menjadi sarana transportasi yang paling sesuai dengan ukuran kantong rakyat Indonesia. Bahkan dibandingkan sarana trasnportasi darat lainnya, perbandingan tarif harganya begitu jauh. Ketika terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak, fluktuasi perubahan tarif kereta ekonomi begitu kecil sehingga tak meruntuhkan kecintaan rakyat pada sarana transportasi yang satu ini. Bayangkan saja sebuah kereta yang melakukan perjalanan jarak jauh maupun dekat hanya memiliki beban pengluaran bahan bakar solar untuk sebuah lokomotif, terlebih ketika ia mampu memperoleh pemasukan dari ratusan penumpang. Sementara ketika kita melihat sebuah bus yang mengeluarkan biaya bahan bakar untuk setiap armada hanya mendapatkan pemasukan dari puluhan penumpang. Perbandingan rasio jumlah penumpang dan pengeluaran bahan bakar inilah yang menajadikan kereta api menajadi sarana transportasi publik termurah.

Ditinjau dari hal di atas, sepertinya layak jika kereta api khususnya kelas ekonomi menjadi primadona rakyat. Tapi tentu ada beban lain yang harus dibayar sebagai dampak dari murahnya tarif. Beranjak dari masalah diatas, maka tak dapat dipungkiri jumlah penumpang di kereta kelas ekonomi baik kereta diesel maupun kereta listrik tidak dibatasi sehingga kenyamanan dan keamanan penumpang patut dipertanyakan. Hal ini tentu cukup beralasan, pasalnya dengan tarif yang semurah itu tentu sukar untuk mengalokasikan dana pelayanan yang lebih baik kepada para penumpangnya. Jika ingin mendapatkan pelayanan yang baik, penumpang perlu merogoh kocek lebih dalam dengan tarif berkali-kali lipat harga tiket kelas ekonomi. Mengetahui hal tersebut tentu masyarakat kalangan bawah akan lebih memilih ketidaknyamanan dengan tarif terjangkau dari pada kenyamanan dengan tarif selangit. Terlebih jika memasuki musim libur lebaran, prinsip ”yang penting sampai tujuan” menjadi primadona utama bagi mereka –kalangan ekonomi menengah ke bawah untuk mudik ke kampung halaman.

Melihat kondisi ekonomi bangsa, pantaslah jika rakyat memilih tarif murah meskipun kenyamanan tergadaikan. Ketika berbicara masalah kenyamanan, memang itu menjadi hak prerogatif setiap individu, sebab setiap individu berhak menafsirkan kata “nyaman” itu sendiri. Dengan demikian kondisi transportasi umum kereta api yang menurut sebagian besar orang dianggap kurang nyaman, bisa jadi sudah cukup baik bahkan layak bagi sebagian yang lain. Hal ini akan menjadi lain ketika kita berbicara masalah keamanaan dan keselamatan penumpangnya. Dalam konteks keamanan dan keselamatan, tidak ada lagi tawar-menawar. Keamanan dan keselamatan merupakan sesuatu yang mutlak harus dipenuhi. Sebab hal itu berkaitan langsung dengan nyawa penumpang itu sendiri. Disinilah permasalahan transportasi umum kereta api yang hingga saat ini masih terus menjadi masalah klasik permerintah dari dulu hingga sekarang. Maka dapat dimungkinakan, permasalahan ini menjadi suatu budaya yang mendarah daging karena terlalu sering dimaklumi dan diberikan toleransi.

Pada kereta diesel yang menyediakan layanan transport jarak jauh, keamanan dapat dikatakan cukup. Meskipun sesekali dalam kondisi tertentu, masih ada saja ada penumpang “nakal” yang duduk di atap gerbong kereta. Ketika hal tersebut terjadi, tentu masalah nyawa menjadi suatu yang dipertaruhkan. Lain halnya jika kita melihat sisi keamanan dari kereta api listrik commuter Jabodetabek. Pada kereta listrik hampir setiap hari ada saja penumpang yang dengan enaknya nagkring di atas gerbong[3]. Khususnya pada saat jam-jam berangkat dan pulang kerja ketika kepadatan penumpang ada pada puncaknya[4]. Para penumpang yang berada di atas gerbong tersebut mungkin merasa nyaman-nyaman saja –karena telah menjadi suatu budaya. Namun, mereka tidak menyadari bahaya jika terjatuh dari gerbong dan juga bahaya kabel listrik puluhan ribu volt yang setiap waktu dapat merenggut nyawa mereka. Melihat permasalahan ini, secara ideal pihak yang berwenang –dalam hal ini PT. KAI, semestinya dapat menegakan peraturan dan melakukan kontrol secara rutin agar jumlah korban dapat diminimalisir.

Melihat permasalahan transportasi massal di atas, sudah saatnya negeri ini berbenah. Berbenah di sini bukanlah kata berbenah ala retorika yang sering dilontarkan oleh jajaran birokrat. Namun, berbenah disini perlu dilakukan dalam wujud yang konkret. Upaya perbaikan yang dilakukan perlu dilakukan secara konsisten. Bukan hanya dilakukan ketika ada masalah yang mencuat ke permukaan. Sebagai contoh membenahi sistem pengontrolan penumpang yang seringkali tidak konsisten. Dalam momen peringatan kemerdekaan Indonesia ini perlu rasanya untuk menciptakan kemerdekaan transportasi bagi rakyat. Kemerdekaan transportasi berarti terpenuhinya hak-hak rakyat untuk mendapatkan pelayanan terbaik dari sarana transportasi yang mengedepankan aspek keselamatan dan keamanan dalam bertrasnportasi. Kesemuanya tentu untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Semoga…

Perihal alfanpresekal
Mahasiswa Teknik Komputer - Universitas Indonesia

3 Responses to Kereta Api : Transportasi Rakyat Dulu dan Sekarang

  1. pauji mengatakan:

    kkkernawon naoan maneh

  2. pauji mengatakan:

    kka lagi apa ku uji tulissanya bagus kaya kamu pake telk lagih aah kamu jjj baons yyn aa lagih kerja sama binani yah bb sieking lagih tidur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: