Katrok, Nuklir Solusi Krisis Energi Bukan untuk Bangsa

Tulisan ini dimuat di http://www.mediaindonesia.com/ , bagian citizen journalism tanggal 25 Agustus 2010

KRISIS energi kembali memicu perdebatan para wakil rakyat. Permasalahan yang dilatarbelakangi defisit yang dialami oleh PLN ini memicu efek domino terhadap berbagai sendi kehidupan bangsa.

Di satu sisi pemerintah merasa terlalu berat bila harus menganggarkan subsidi kepada PLN untuk menutupi biaya produksinya. Hingga pemerintah mencoba memberikan solusi dengan menaikkan tarif dasar listrik sebesar 15%.

Apabila hal ini benar-benar dilaksanakan, maka sektor perekonomian bangsa ini akan mendapatkan limpahan efek domino akibat suatu kebijakan. Pada akhirnya lagi-lagi rakyat kecilah yang akan menjadi korban kebijakan, sebagai konsekuensi logis apabila kebijakan kenaikan TDL benar-benar terjadi. Meskipun pemerintah telah menawarkan subsidi langsung kepada rakyat kecil yang nantinya akan merasakan imbas terbesar, apakah kebijakan tersebut cukup solutif?

Sebenarnya untuk mengatasi defisit anggaran bisa saja diselesaikan dengan mengatasi akar permasalahannya yang tak lain adalah krisis energi. PLN yang harus merugi karena biaya produksi listrik sebagian besar digunakan untuk membeli bahan bakar minyak dan batu bara sebagai sumber energi utama. Sementara harga unrenewable resources tersebut relatif tinggi.

Putra-putri bangsa ini juga telah berkontribusi memunculkan alternatif solusi untuk memenuhi kebutuhan energi dengan memanfaatkan sumber energi lain. Namun, sayangnya penawaran solusi tersebut sepertinya hanya mandeg sampai tahap penyampaian pendapat saja, tanpa ada follow up lebih lanjut.

Bahkan salah satu opsi solusi untuk mengatasi krisis energi dengan mendirikan PLTN (pembangkit listrik tenaga nuklir) ditentang oleh kalangan-kalangan tertentu. Entah apa yang melatarbelakangi pemikiran rakyat Indonesia, yang hanya dapat bergulat dalam permasalahan tanpa ada kemauan kuat untuk keluar dari masalah.

Pemerintah sebenarnya sudah merencanakan pembangunan PLTN Muria di Jepara yang apabila dilaksanakan diprediksikan akan selesai sekitar tahun 2016. Namun, masyarakat sekitar secara vokal menentang rencana tersebut. Pasalnya mereka sudah terlalu paranoid melihat berbagai “cerita” tentang dampak negatif dari pemanfaatan energi nuklir. Tentu kita semua tidak mau menjadi korban akibat kesalahan dalam pemanfatan nuklir, tapi setidaknya kita juga mau melihat segi positif yang akan dicapai demi kemaslahatan bersama.

Masyarakat Indonesia yang pada umumnya yang mudah terprovokasi oleh isu-isu tentu tidak akan setuju bila dibangan PLTN di republik ini. Pasalnya berbagai LSM yang “berkoar-koar” terus menerus menyuarakan berbagai dapak negatif dari nuklir, tanpa mau memberikan informasi secara berimbang mengenai segi positifnya. Hingga terbentuklah paradigma di masyarakat yang begitu paranoid terhadap teknologi yang satu ini.

Jika kita mau melihat lebih jauh seandainya kelak PLTN benar-benar direalisasikan tentu akan memberikan perubahan untuk bangsa ini. Rakyat akan dapat menikmati listrik murah, perekonomian akan tumbuh, hingga akhirnya hal tersebut akan memberikan reaksi berantai yang positif terhadap berbagai sektor kehidupan. Apabila saat itu tiba, Indonesia tentu akan menjadi bangsa yang kuat.

Karena alasan tersebut, saat ini dimungkinkan adanya kepentingan-kepentingan asing yang “bemain”, untuk menciptakan kondisi paranoid terhadap teknologi nuklir. Sebab mereka menganggap Indonesia sebagai rival tentu kurang suka jika Indonesia benar-benar “bangkit”.

Apabila bangsa ini masih terus terjebak oleh ketakutan akan pemanfaatan teknologi nuklir tentu akan sulit bagi kita untuk keluar dari permasalahan krisis energi. Dalam sebuah kuliah umum BJ Habibie menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada teknologi canggih, yang ada hanyalah teknologi tepat guna. Dan semestinya yang menjadi teknologi tepat guna bila merujuk pada kondisi bangsa ini sekarang yang sedang dilanda krisis energi tak lain adalah nuklir.

Meskipun ada alternatif sumber energi lainnya seperti geotermal, gelombang laut, sinar matahari dan gas bumi, kesemuanya tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap masalah krisis energi. Jika memang ingin menyelesaikan masalah krisis energi maka marilah kita dukung teknologi nuklir. Jangan sampai kita hanya menjadi bangsa “katrok”, sementara bangsa lain telah berlari jauh di depan, kita hanya bergulat mencari solusi krisis energi. Sebab teknologi Nuklir memang tidak diperuntukan bagi bangsa katrok.

Mahasiswa Departemen Teknik Elektro

Fakultas Teknik Universitas Indonesia

Peserta PPSDMS Nurl Fikri

Report By : Alfan Presekal

Perihal alfanpresekal
Mahasiswa Teknik Komputer - Universitas Indonesia

One Response to Katrok, Nuklir Solusi Krisis Energi Bukan untuk Bangsa

  1. Ghiffari mengatakan:

    yah, kalo di Jepara ga mau ya harusnya si bisa di taruh tempat lain. Kalau perlu luar Jawa, biar ga ribut2. LSM itu kan bukan orang teknik, mana ngerti nuklir. taunya isu2 gono gini aja. ane udah pernah ngunjungin Korea Atomic Energy Research Institute sampai ke lab2nya yang besar bgt dan juga ke nuclear waste disposal facilities di Wolsung, Korea selatan, aman2 aja tuh nuklir. emang kalo pikiran katrok ya susah diilangin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: