BAHAYA FRIENDSTER

Beberapa dekade terkhir ini friendster sebagai web yang menyediakan layanan cyber friendship menjadi suatu hal yang begitu akrab di benak anak muda. Hampir semua generasi muda yang pernak menjelajahi dunia maya tentu tahu tentang web yang satu ini. Awal mula booming frienndster dimulai dari kota besar dan merambat sampai ke pelosok desa yang telah memiliki kemampuan akses internet.

Memang bila dilihat social relation via internet tidak ada salahnya karena hal itu dapat menjadi ajang silaturahim tanpa jarak. Tapi bukan itu yang menjadi masalahnya, justru masalah baru akan muncul ketika seseorang menjadi “gila friendster”. Dimana pada saat itu ketika dia mempunyai kesempatan menjelajahi dunia maya tentunya frienster menjadi suatu tujuan yang pertama dan utama.

Dengan demikian dengan adanya friendster maka para pengguna yang sepertinya merasakan manfaat social relation dan tampak modern karena kelihatan tidak gaptek, sesungguhnya sedang mengalami kerugian. Sebagianbesar orang awam tentu tidak akan menyadari hal ini, tapi bagi rekan-rekan yang mau berfikir lebih lanjut tentu akan mengerti.

Coba anda bayangkan akses internet dengan biaya 2000-4000 rupiah perjam hanya digunakan untuk akses friendster. Sebagian besar user friendster yang dilakukan hanyalah melihat-lihat profil orang lain atau mengedit account miliknya. Hal seperti ini merupakan hal yang dilakukan oleh user internet pasif yang kerjanya hanya melihat lihat. Padahal bila mau berfikir menjadi user aktif akan lebih banyak manfaat yang dilakukan. Misalnya kita kembangkan potensi kita untuk memberi sumbangsih terhadap umat manusia misalnya dengan mengikuti diskusi mailing list atau menulis di blog atau bahkan mencoba hosting web gratisan. Dengan demikian ilmu yang kita miliki akan lebih bermanfaat dan ilmu kita juga akan up to date terhadap perkembangan iptek terkini. Karena sesungguhnya Knowledge is power, it will multiply when you share it (Ono W Purbo).

Dari presepektif sosiologis sesungguhnya social relation yang terjadi melaui friendster merupakan social relation semu. Mungkin sebagian besar orang berfikir bahwa melalui friendster dia telah mampu mengaktualisasikan dirinya dengan menunjukan Who am I. Sebagian besar waktu para penggila friedster akan dihabiskan untuk mengakses friendster baik via internet maupun via wap di ponsel. Alangkah lebih baik bila waktu itu digunakan untuk aktifitas social relation yang lebih real semisal menjadi aktfis organisasi atau social relation person to person supaya memiliki banyak sahabat di dunia nyata.

Untuk itu saya mengajak kepada seluruh pengguna frienster janganlah terlalu membanggakanya karena lebih banyak aktifitas yang lebih bermanfaat di luar sana. Umat manusia menunggu partisipasi kita !!!

allfunpress@live.com

Perihal alfanpresekal
Mahasiswa Teknik Komputer - Universitas Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: